GURU BIASA ADALAH GURU YANG MAMPU MENJELASKAN, GURU BAIK ADALAH GURU YANG MAMPU MENDEMONSTRASIKAN DAN GURU HEBAT ADALAH GURU YANG MAMPU MENGINSPIRASI SISWA.

Kamis, 10 Februari 2011

TEORI KONSTRUKTIVISTIK


MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME
Belajar merupakan sebuah proses bukan suatu tujuan sehingga guru diharapkan memiliki strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien. Beberapa strategi belajar, metode, teknik dan media pembelajaran perlu digunakan untuk mencapai tujuan ini. Fokus pembelajaran juga perlu diubah, dari pembelajaran yang berfokus pada guru ke fokus pembelajaran pada siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk merubah fokus pembelajaran ini adalah model pembelajaran kontruktivisme.
Salah satu teori belajar yang telah dikembangkan adalah teori konstruktivistik. Menurut teori ini, guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswalah yang harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka sendiri. Konstruktivisme memahami hakikat belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan cara mencoba memberi makna pada pengetahuan sesuai pengalamannya (Baharuddin dan Esa Nur, 2008).
Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (von Glasersfeld dalam Battencourt, 1989 dan Matthews, 1994). Para konstruktivis menjelaskan bahwa satu-satunya alat/sarana yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah indranya. Seseorang berinteraksi dengan obyek dan lingkungan dengan melihat, mendengar, menjamah, mencium, dan merasakannya. Dari sentuhan indrawi itu seseorang membangun gambaran dunianya. 
Kontruktivisme merupakan salah satu dari tujuh pilar CTL (Conceptual Teaching Learning), meskipun model ini juga dapat berdiri sendiri. Esensi dari teori kontruktivisme adalah bahwa siswa harus menemukan dan menstransformasikan sutu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Dalam model pembelajaran ini guru bertugas sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran ini dengan cara :
1.      Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa
2.      Memberikan kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya
3.      Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar
Melalui model pembelajaran kontruktivisme siswa ditantang untuk membentuk sendiri pengetahuan dalam struktur kognitifnya untuk dapat menjawab tantangan kehidupan sehari-hari yang memerlukan kesiapan untuk menghadapinya.
Secara umum berpikir dianggap sebagai suatu proses kognitif, aktivitas mental untuk memperoleh pengetahuan. Proses berpikir dihubungkan dengan pola perilaku yang lain dan memerlukan keterlibatan aktif pemikir. Keterampilan berpikir selalu berkembang dan dapat dipelajari (Nickerson, et.al.,1985). Proses berpikir kompleks dikenal sebagai berpikir tingkat tinggi, yaitu “pemecahan masalah”, “berpikir kritis” dan “ berpikir kreatif”.
A.    Berpikir kritis:
1.      Menganalisis argumen:
a.       mengidentifikasi alasan yang dinyatakan,
b.      melihat persamaan dan perbedaan.
2.      Menentukan tindakan:
a.       memilih criteria untuk menimbang penyelesaian yang mungkin,
b.      memutuskan apa yang harus dilakukan sementara.
3.      Mengamati dan menimbang laporan pengamatan atau criteria: catatan yang dibuat pengamat.
4.      Menyimpulkan: interpretasi pernyataan.
B.     Berpikir kreatif:
1.      Mempertentangkan ketidakjelasan ketidakpastian:
a.       bertanya untuk menguatkan harapan dan antisipasi,
b.      bertanya provokatif untuk membuat siswa memikirkan informasi dengan cara baru,
c.       memberi struktur yang hanya cukup untuk memberikan petunjuk dan arahan,
d.      mendorong karakteristik kepribadian yang kreatif atau kecenderungan kreatif.
2.      Berlatih proses penyelesaian masalah yang kreatif secara sistematis dalam hubungannya dengan masalah yang dihadapi:
a.       menjelaskan secara sistematis terhadap informasi yang disajikan,
b.      menyajikan informasi dalam bentuk pertanyaan yang tak lengkap dan
c.       dimiliki siswa untuk mengatasi kesenjangan,
d.      menyediakan keterbukaan,
e.       memprediksi dari informasi terbatas,
f.       meningkatkan dan menggunakan kejutan,
g.      mengidentifikasi dan mendorong kemahiran keterampilan baru untuk menemukan informasi,
h.      mengenali hubungan yang jelas antar informasi,
i.        menjelaskan informasi yang diberikan,
j.        mendorong penjelasan yang baik, penyelesaian konflik,
k.      misteri yang tidak terpecahkan.
3.      Melakukan eksperimen:
a.       membuat akrab hal yang aneh atau sebaliknya,
b.      menguji fantasi (hayalan) untuk menemukan penyelesaian masalah nyata,
c.       mendorong proyeksi mendatang,
d.      mendorong pertimbangan yang berbeda dan menggunakan beberapa prosedur pemecahan dari beberapa disiplin.
Phillips dalam Light dan Cox (2001) melihat bahwa konstruktivisme telah menjadi ‘pedoman bagi perkembangan teori dan penelitian di bidang pendidikan secara luas’. Namun demikian teori-teori yang bernafaskan konstruktivisme itu satu sama lain bervariasi secara signifikan.
Dimensi horisontal mendeskripsikan adanya perdebatan klasik tentang realitas atau pengetahuan, antara ‘ditemukan’ dengan ‘diciptakan’. Pada ujung yang satu pengetahuan bebas dari campur tangan manusia; alam berfungsi sebagai ‘instruktur’ dan manusia menemukan prinsip-prinsipnya. Pada ujung yang lain pengetahuan dan realitas diciptakan oleh manusia. Dimensi vertikal menggambarkan perdebatan tentang faktor pendukung terjadinya konstruksi pengetahuan itu, antara proses internal (dalam individu manusia) atau sosial dan kultural (dalam masyarakat).
Dimensi ketiga memperhatikan tingkat keaktifan proses konstruksi pengetahuan itu, antara aktif dan pasif. Pada ujung yang satu manusia (baik individual maupun sosial) mengkostruksi pengetahuan secara pasif, sebagai penonton; di ujung yang lain manusia mengkonstruksi secara aktif, sebagai aktor. Kerangka teoritis yang dibahas dalam tulisan ini kira-kira berada di tengah-tengah sumbu horisontal, tetapi agak condong ke arah kutub ‘sosial’ dan ‘aktor’ dari kedua sumbu lainnya.
Prosedur pembelajaran konstruktivisme
Driver dalam Fraser and Walberg (1995) telah menciptakan prosedur pembelajaran berdasarkan konstruktivisme, memfasilitasi peserta didik membangun sendiri konsep-konsep baru berdasarkan konsep lama yang telah dimiliki. Pembangunan konsep baru itu tidak terjadi begitu saja melainkan dalam konteks sosial, di mana mereka dapat berinteraksi dengan orang lain untuk merestrukturisasi ide-idenya.
Konsep lama yang dimiliki siswa digali pada pembelajaran pendahuluan, pada saat mereka mendapat orientasi simulasi yang relevan dengan konsep yang akan dipelajari. Konsep lama itu diperoleh siswa dari kehidupan sehari-hari, maupun dari pembelajaran sebelumnya. Tidak jarang di antara konsep-konsep itu ada yang salah (miskonsepsi), yang akan sangat mengganggu proses belajar selanjutnya apabila tidak diperbaiki sejak awal. Konsep lama yang sudah sesuai dengan konsep ilmiah sangat penting artinya bagi penanaman konsep-konsep baru yang akan dilakukan dalam pembelajaran inti.
Kompetensi yang Dikembangkan
Di samping kompetensi disiplin ilmu (discipline-based competencies), pembelajaran juga mengembangkan kompetensi interpersonal (interpersonal competencies) dan kompetensi intrapersonal (intrapersonal competencies) dalam diri siswa. Kompetensi disiplin ilmu berkaitan dengan pemahaman konsep, prinsip, teori dan hukum dalam disiplin ilmu masing-masing. Kompetensi interpersonal mencakup kemampuan berkomuniksi, berkolaborasi, berperilaku sopan dan baik, menangani konflik, bekerja sama, membantu orang lain, dan menjalin hubungan dengan orang lain dan masyarakat. Kompetensi intrapersonal mencakup apresiasi terhadap keanekaragaman, melakukan refleksi diri, disiplin, beretos kerja tinggi, membiasakan diri hidup sehat, mengendalikan emosi, tekun, mandiri, dan mempunyai motivasi intrinsik.
Hubungan antara ketiga kompetensi itu dengan pembelajaran disajikan dalam diagram empat lingkaran itu saling bersinggungan bagian tepinya sehingga manakala lingkaran pembelajaran menggelinding ketiga lingkaran lainnya akan ikut menggelinding.
Lingkaran pembelajaran yang terintegrasi dengan tiga kompetensi itu seiring dengan dimensi-dimensi konstruktivisme. Pada saat mengkonstruksi pengetahuan dalam konteks sosiokultural kompetensi interpersonal siswa akan berkembang secara alami. Pada saat mengkonstruksi pengetahuan secara aktif (sebagai ‘aktor’) kompetensi intrapersonal siswa akan terfasilitasi secara optimal.
Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran tatap muka secara umum terdiri dari tiga bagian, yaitu a) pembelajaran pendahuluan, b) pembelajaran inti, dan c) pembelajaran penutup. Dalam prosedur pembelajaran konstruktivisme pembelajaran pendahuluan dapat dimanfaatkan untuk memberikan “orientasi” dan “penggalian ide” untuk  mengetahui prakonsepsi mahasiswa. Pembelajaran inti, yang merupakan bagian terbesar pembelajaran, dapat digunakan untuk memfasilitasi “restrukturisasi ide” mengarah ke perbaikan konsep. Evaluasi pada akhir proses restrukturisasi akan menilai apakah ide-ide itu sudah mendekati konsep ilmiah yang sesungguhnya.
Selanjutnya dosen memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk “mengaplikasikan ide-ide” yang baru dipelajari untuk memecahkan berbagai masalah. Pemahaman mahasiswa atas ide-ide itu sebenarnya baru akan mantap setelah digunakan untuk memecahkan masalah. Pada pembelajaran penutup dilakukan “reviu perubahan ide” untuk membandingkan ide yang telah dipelajari itu dengan ide awal yang muncul pada saat penggalian ide.
Dalam pembelajaran non tatap muka “restrukturisasi ide” dan “aplikasi ide” dapat terus difasilitasi; bedanya siswa akan bekerja tanpa pengawasan guru. Tugasnya bisa bersifat terstruktur sesuai dengan perencanaan guru, tetapi dapat juga mandiri sesuai dengan minat masing-masing siswa.
Metode
Di dalam masing-masing tahap pembelajaran konstruktivisme di atas tentu saja terdapat berbagai metode. Di bawah ini adalah beberapa metode yang sering dipakai dalam pembelajaran di perguruan tinggi:
pembelajaran kelompok besar
pembelajaran kelompok kecil
sindikat
triad
penugasan terstruktur, pekerjaan rumah
penugasan mandiri, proyek
praktikum di laboratorium atau alam sekitar
seminar
(disusun oleh Suparmi dan dyah).

Daftar Pustaka
Budiningsi, C, Asri. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan Nasional. 2005. CD Pembelajaran “Program Peningkatan Kualitas Pembelajaran”. Jakarta

Pusdiklat Depdagri Regional Yogyakarta. 2006. Pembelajaran yang Inovatif dengan Berbagai Model Pembelajaran. Yogyakarta

Lampiran :
Penerapan Model Pembelajaran Kontruktivisme dalam Materi Sosiologi Kelas XI Semester I tingkat SMA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar